BANDAR LAMPUNG — Peningkatan status aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mendorong Karang Taruna Provinsi Lampung memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, khususnya di kawasan pesisir.
Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan tanpa terjebak kepanikan. Ia juga meminta warga mengutamakan keselamatan keluarga, memantau informasi resmi, dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.
“Masyarakat kita imbau untuk selalu waspada, tetap tenang, dan jangan panik. Kenaikan status ini harus disikapi dengan meningkatkan kesiapsiagaan diri dan lingkungan,” ujar Wahrul, Sabtu (10/10/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Wahrul menginstruksikan jajaran Karang Taruna mulai tingkat provinsi hingga desa dan kelurahan, terutama di wilayah pesisir, untuk meningkatkan kesiapan personel dan relawan.
Menurut dia, relawan Karang Taruna disiapkan untuk membantu masyarakat apabila dibutuhkan, mulai dari mendukung evakuasi, mendistribusikan logistik, hingga membantu pendirian posko darurat sesuai koordinasi dengan petugas berwenang.
Wahrul menegaskan, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan pengerahan personel, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh informasi yang benar dan bertindak sesuai arahan otoritas kebencanaan.
Ia menyoroti peran pemuda dalam mencegah penyebaran informasi bohong atau hoaks yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Kader Karang Taruna di semua tingkatan harus berperan aktif melawan hoaks yang menyesatkan. Ikuti informasi yang bersumber dari lembaga resmi,” tegasnya.
Sembilan Kali Erupsi Tercatat dalam Pengamatan
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul pemberlakuan status Level III (Siaga) Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB.
Kepala BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, menjelaskan bahwa penetapan status tersebut didasarkan pada analisis dan evaluasi terhadap perkembangan aktivitas vulkanik gunung api tersebut.
Berdasarkan data pengamatan pada Jumat (9/10/2026) hingga pukul 19.20 WIB, tercatat sembilan kali erupsi dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi hingga 32 detik. Namun, tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Hasil pengukuran Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan aktivitas yang berfluktuasi dengan energi relatif rendah.
Sementara itu, data tiltmeter Stasiun Tanjung selama periode 21 September hingga 9 Oktober 2026 menunjukkan pola fluktuatif, dengan kecenderungan mendatar pada komponen Y.
Meski demikian, perkembangan aktivitas tersebut tetap perlu dipantau. Masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi instansi berwenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Peningkatan status Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat pentingnya koordinasi antara pemerintah, petugas kebencanaan, relawan, dan masyarakat dalam memperkuat mitigasi serta mengurangi risiko apabila terjadi keadaan darurat.
Karang Taruna Lampung berharap kesiapan relawan di berbagai tingkatan dapat mendukung upaya penanganan bencana, terutama dalam membantu masyarakat yang membutuhkan informasi dan bantuan di lapangan.
Waspada tanpa panik. Masyarakat diharapkan tetap tenang, mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi, serta mematuhi arahan petugas demi menjaga keselamatan bersama. (*)












