KLUNGKUNG, BALI — Ketua Dewan Pembina DPP Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), Irjen. Pol. (Purn.) Dr. H. Ike Edwin, S.H., M.H., M.M., menegaskan bahwa warisan kepemimpinan para raja dan pemimpin adat Nusantara bukan semata-mata soal takhta, melainkan amanah untuk mengatur rakyat, menegakkan keadilan, dan melindungi kepentingan bersama.
Pesan tersebut disampaikan Ike Edwin saat menghadiri Pertemuan Adat Nusantara di Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu (10/10/2026) malam. Forum tersebut mempertemukan tokoh-tokoh adat dari berbagai daerah untuk memperkuat silaturahmi sekaligus merawat nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Dalam sambutannya, tokoh adat Lampung yang juga mantan perwira tinggi Polri itu mengingatkan bahwa pergantian zaman tidak boleh menghilangkan esensi kepemimpinan yang telah diwariskan para pendahulu bangsa.
“Para raja dan pemimpin adat terdahulu itu tidak menyerahkan takhta semata. Yang mereka serahkan adalah kewenangan untuk mengatur rakyat, menjaga keadilan, dan melindungi kepentingan bersama. Itulah inti amanah yang harus kita jaga bersama,” tegas Ike Edwin.
Menurut dia, nilai-nilai kepemimpinan dalam tradisi adat Nusantara memiliki benang merah yang sama, yakni menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian utama dari tanggung jawab seorang pemimpin.
Ia menilai, adat istiadat bukan sekadar simbol kebesaran masa lalu atau rangkaian seremoni budaya. Lebih dari itu, adat menyimpan nilai moral, etika kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial yang tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern.
“Adat bukan penghalang kemajuan. Adat adalah kompas agar kita maju tanpa kehilangan arah dan jati diri sebagai bangsa yang beradab,” ujarnya.
Adat dan Kepemimpinan Harus Berpihak kepada Rakyat
Ike Edwin menekankan pentingnya memperkuat komunikasi antartokoh adat di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Menurut dia, pertemuan lintas daerah menjadi ruang strategis untuk bertukar pandangan, mempererat persaudaraan, serta memastikan nilai-nilai luhur leluhur tetap hidup di tengah generasi penerus.
Ia juga mengingatkan bahwa penghormatan terhadap tradisi harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga persatuan bangsa.
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan adat memiliki peran penting untuk menanamkan nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan yang disampaikan Ike Edwin sekaligus menegaskan bahwa kewenangan seorang pemimpin harus dipahami sebagai amanah, bukan sekadar kedudukan atau simbol kekuasaan.
Momentum Festival Budaya Kerajaan Klungkung
Pertemuan Adat Nusantara berlangsung beriringan dengan Festival Budaya Kerajaan Klungkung 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya daerah di tengah keberagaman Indonesia.
Kehadiran tokoh-tokoh adat dari berbagai wilayah diharapkan dapat mempererat hubungan antarmasyarakat adat dan membuka ruang kolaborasi dalam menjaga tradisi leluhur.
Bagi Ike Edwin, keberagaman adat dan budaya merupakan kekayaan bangsa yang harus dirawat melalui sikap saling menghormati dan semangat persaudaraan.
Pertemuan tersebut pun menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang melalui gelar kebangsawanan, simbol kerajaan, atau upacara adat. Nilai terpentingnya terletak pada bagaimana amanah kepemimpinan, keadilan, dan kepedulian terhadap rakyat terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.(*)






