PESAWARAN — Misteri pelarian seorang pria berinisial G yang disebut terlibat dugaan kasus penggelapan mobil mulai mengarah ke sebuah rumah mewah milik pejabat di Kabupaten Pesawaran.
Rumah tersebut disebut-sebut menjadi lokasi persembunyian G setelah yang bersangkutan melarikan diri ketika hendak diamankan polisi di wilayah Kedaton, Bandar Lampung.
Dari video yang beredar, aparat kepolisian terlihat mengepung sebuah rumah berukuran besar dan mewah. Polisi tampak berupaya mencari keberadaan G yang diduga bersembunyi di dalam rumah tersebut.
Dalam rekaman itu juga terlihat seorang perempuan yang diduga merupakan istri G, berinisial S, yang diketahui menjabat sebagai komisioner KPU Lampung Utara.
Petugas terdengar meminta S menghubungi G agar keluar dari tempat persembunyiannya.
Situasi tersebut menambah dramatis rangkaian pengejaran G yang sebelumnya disebut berhasil meloloskan diri saat hendak diamankan polisi. Aksi pelarian itu bahkan sempat menjadi perhatian warga dan disebut berlangsung seperti adegan pengejaran dalam film.
Namun, sampai saat ini kronologi lengkap mengenai dugaan penggelapan mobil, proses pengejaran hingga alasan G diduga berada di rumah tersebut masih memerlukan penjelasan resmi dari kepolisian.
Yang kemudian menjadi sorotan bukan hanya keberadaan G, tetapi juga rumah yang disebut-sebut milik pejabat tinggi di Pesawaran berinisial AMU.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, G merupakan adik dari pejabat AMU. Rumah yang diduga menjadi lokasi keberadaan G tersebut tampak seperti rumah mewah dengan deretan koleksi mobil di dalam maupun di sekitar area rumah.
Pemandangan rumah berukuran besar dengan deretan kendaraan tersebut turut menjadi perhatian, terutama karena rumah itu disebut-sebut berkaitan dengan pejabat AMU.
Ketua Umum Gepak Lampung, Wahyudi, mempertanyakan keberadaan rumah mewah tersebut sekaligus mendorong agar asal-usul kepemilikan dan kewajaran harta pejabat yang bersangkutan menjadi perhatian publik.
“Kalau benar rumah itu milik pejabat dan kemudian disebut menjadi tempat persembunyian seseorang yang sedang diburu polisi, tentu ini bukan persoalan sepele. Publik berhak mendapatkan penjelasan yang terang,” kata Wahyudi.
Menurut dia, kemewahan bangunan yang terlihat dalam video juga patut dikaitkan dengan transparansi harta kekayaan pejabat.
“Kami tidak sedang menuduh siapa pun. Tapi ketika publik melihat rumah yang begitu besar dan mewah, sementara pemiliknya disebut pejabat, pertanyaannya sederhana: sumber kekayaannya dari mana dan apakah sesuai dengan profil penghasilannya?” ujarnya.
Wahyudi menegaskan, dugaan rumah pejabat tersebut digunakan sebagai tempat persembunyian G harus diusut secara terang agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat.
“Polisi harus menjelaskan siapa pemilik rumah itu, bagaimana G bisa berada di sana, siapa yang mengetahui keberadaannya, dan apakah ada pihak yang membantu pelariannya. Jangan sampai publik hanya disuguhi potongan video tanpa penjelasan hukum yang utuh,” tegasnya.
Ia juga meminta aparat tidak berhenti pada pengejaran terhadap G apabila dalam penyelidikan ditemukan adanya pihak lain yang diduga membantu menyembunyikan atau melindungi pelaku.
“Kalau memang ada yang membantu, ya harus diperiksa. Siapa pun orangnya. Jangan karena tempatnya rumah pejabat lalu persoalannya menjadi kabur,” kata Wahyudi.
Hingga berita ini disusun, informasi mengenai status kepemilikan rumah, hubungan G dengan penghuni rumah, serta kronologi lengkap pelarian G masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian dan pejabat yang disebut dalam informasi tersebut.(*)












