
PRINGSEWU — Instruksi peningkatan kesiapan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tidak berhenti di meja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.
Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah II, Rodi Hayani Samsun, langsung menerjemahkan arahan tersebut ke tingkat sekolah.
Langkah itu terlihat saat Cabdin Pendidikan Wilayah II menggelar Bedah Kerangka dan Isi TKA di SMAN 1 Gadingrejo, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi tindak lanjut dari workshop tingkat Provinsi Lampung yang sebelumnya dipimpin Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico di Bandar Lampung.
Wilayah kerja Cabdin II meliputi Kabupaten Tanggamus, Pringsewu dan Pesawaran.
Bagi Rodi, tantangan persiapan TKA bukan hanya bagaimana sekolah memahami bentuk soal, tetapi bagaimana kebijakan tersebut benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari.
“Intinya kami di Cabang Dinas ikut mendorong dan akan meneruskan program yang disampaikan oleh Kepala Dinas sehingga betul-betul terlaksana dengan baik,” ujar Rodi.
Ia menegaskan, Cabdin Wilayah II akan memperkuat koordinasi dengan kepala sekolah, MKKS dan MGMP agar kebijakan peningkatan mutu pembelajaran tidak berhenti sebagai instruksi administratif.
Dari Bedah Soal ke Strategi Pembelajaran
Salah satu perhatian utama dalam persiapan TKA tahun ini adalah perubahan karakter soal.
Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris tetap menjadi mata pelajaran wajib, namun siswa akan dihadapkan pada soal yang lebih banyak menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Karena itu, menurut arah kebijakan yang dibahas dalam workshop provinsi, pola pembelajaran berbasis hafalan harus mulai ditinggalkan.
Guru dituntut memperkuat kemampuan siswa dalam memahami bacaan, bernalar, mengolah informasi, menggunakan kemampuan numerasi dan menyelesaikan persoalan kontekstual.
Di tingkat Cabdin, Rodi mendorong agar pemahaman tersebut diterjemahkan ke dalam praktik pembelajaran.
Contoh stimulus dan karakter soal TKA tidak hanya diperkenalkan saat menjelang ujian, tetapi mulai diintegrasikan ke dalam penilaian harian dan ujian satuan pendidikan.
Dengan pola itu, siswa diharapkan tidak kaget ketika berhadapan dengan model soal TKA sebenarnya.
Target 24 Kali Latihan
Persiapan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan Disdikbud Lampung yang menargetkan siswa kelas XII mengikuti practice testing berbasis komputer sebanyak 24 kali dalam satu tahun ajaran.
Program tersebut merupakan bagian dari penguatan daerah melalui D-Smart atau Desain Materi dan Latihan.
Latihan dilakukan secara berulang untuk membangun kebiasaan siswa menghadapi soal bernalar tinggi sekaligus memetakan kemampuan mereka.
Cabdin Wilayah II menghadapi tantangan tersendiri untuk memastikan target tersebut dapat dilaksanakan. Salah satunya adalah keterbatasan laboratorium komputer di sekolah.
Jumlah siswa kelas XII bisa mencapai ratusan, sementara fasilitas komputer di sekolah tidak selalu sebanding dengan jumlah peserta.
Karena itu, penjadwalan menjadi salah satu kunci. Sesi latihan perlu diatur secara bergilir antarkelas agar seluruh siswa memperoleh kesempatan yang sama.
Namun, latihan juga tidak boleh mengorbankan jam belajar efektif.
Di sinilah Cabdin Wilayah II dituntut memastikan dua kepentingan berjalan beriringan: siswa mendapatkan latihan yang cukup, tetapi pembelajaran reguler tetap berlangsung optimal.
Rodi Ingin TKA Jadi Peta Kemampuan Siswa
Bagi Cabdin Wilayah II, TKA tidak semestinya hanya berakhir sebagai angka.
Hasil asesmen harus mampu memberikan gambaran mengenai kekuatan dan kelemahan akademik siswa.
Karena itu, penerapan latihan dan pembelajaran berbasis karakter soal TKA diarahkan agar sekolah memiliki data yang lebih jelas mengenai kemampuan peserta didik.
Data tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru sekaligus membantu siswa mempersiapkan rencana pendidikan lanjutan.
Terlebih, dalam skema TKA terdapat pula mata pelajaran pilihan yang dapat disesuaikan dengan arah studi siswa di perguruan tinggi.
Siswa yang mengincar bidang tertentu di perguruan tinggi dapat memperoleh instrumen asesmen yang lebih relevan dengan bidang akademik yang dituju.
Dari Provinsi, Turun ke Tiga Kabupaten
Gerak cepat Rodi menjadi penting karena Cabdin merupakan penghubung antara kebijakan provinsi dengan sekolah.
Arahan yang disampaikan Thomas Amirico dalam workshop di Bandar Lampung pada 30 Juli 2026 kemudian diteruskan ke tingkat wilayah hanya dalam hitungan hari.
Bedah kerangka TKA di SMAN 1 Gadingrejo menjadi salah satu bukti konkret bahwa kebijakan tersebut mulai dibawa ke lapangan.
Selanjutnya, koordinasi dengan sekolah, MKKS dan MGMP di Tanggamus, Pringsewu serta Pesawaran menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaannya berjalan seragam.
Dengan waktu menuju pelaksanaan TKA pada Oktober 2026 yang semakin dekat, Cabdin Wilayah II kini memiliki pekerjaan besar: memastikan strategi yang telah dirumuskan tidak berhenti di ruang rapat.
Sebab keberhasilan program bukan diukur dari berapa banyak instruksi yang dikeluarkan, melainkan dari seberapa jauh instruksi tersebut benar-benar berubah menjadi praktik pembelajaran di sekolah.(*)

