Bandar Lampung—Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung Thomas Amirico membakar semangat ribuan mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila).
Dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Kamis (13/8/2026), Thomas mengajak para calon guru tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Thomas menggunakan analogi sederhana untuk menggambarkan tantangan yang akan dihadapi mahasiswa ketika kelak terjun ke ruang kelas.
“Saya mengajak kalian sebagai calon pendidik untuk berpikir dari sekarang. Bagaimana nanti meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Lampung? Ingat, di sekolah itu tidak ada Google Maps,” ujar Thomas.
Menurut dia, Google Maps dapat memberikan petunjuk arah secara cepat ketika seseorang melakukan perjalanan.
Namun, proses pendidikan tidak memiliki peta digital yang secara otomatis menunjukkan jalan keluar dari setiap persoalan siswa.
Karena itu, guru dituntut mampu membaca kondisi peserta didik, memetakan kemampuan mereka, kemudian menentukan strategi pembelajaran yang tepat.
Thomas menilai proses tersebut harus dimulai sejak siswa berada di kelas 10, dilanjutkan dengan penguatan pada kelas 11, hingga akselerasi pada kelas 12.
Matematika dan IPA Masih Jadi Tantangan
Thomas juga mengungkapkan hasil kajian internal Disdikbud Lampung yang menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam penguatan kemampuan siswa, khususnya pada mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA).
“Hasil kajian kami, Lampung itu masih lemah di matematika dan IPA. Jadi, kalau ada sekolah mengklaim dirinya sekolah unggulan, dua mata pelajaran itu wajib hukumnya kuat,” katanya.
Pesan tersebut secara khusus diarahkan kepada mahasiswa FKIP, terutama mereka yang mengambil bidang matematika dan sains.
Thomas meminta mahasiswa menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang untuk mengasah kemampuan sekaligus merancang model pembelajaran yang aplikatif, kreatif, dan menyenangkan.
Dengan demikian, ketika menjadi guru nanti, mereka tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi mampu membuat siswa memahami sekaligus menyukai pelajaran yang selama ini dianggap sulit.
SMAN 14 dan SMAN 1 Tegineneng Jadi Contoh
Thomas kemudian memaparkan dua sekolah di Lampung yang menurutnya berhasil menunjukkan dampak positif dari pemetaan kemampuan siswa dan kolaborasi guru.
Di SMAN 14 Bandar Lampung, sebanyak 284 siswa dari delapan rombongan belajar tercatat lolos ke perguruan tinggi negeri (PTN) pada 2026.
Angka tersebut mencapai 100 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 89 persen.
“Di SMAN 14 itu tim percepatan pembelajarannya ada, komite pembelajarannya hidup, dan manajemen sekolahnya aktif. Yang menarik, di sana ada sembilan guru matematika yang sangat produktif,” ujar Thomas.
Contoh lainnya datang dari SMAN 1 Tegineneng, Lampung Selatan. Sekolah tersebut mencatat tingkat kelulusan siswa yang masuk PTN mencapai 99,42 persen.
Menurut Thomas, keberhasilan itu tidak terlepas dari peran guru matematika yang menjadi pionir sekaligus penggerak kolaborasi antarguru mata pelajaran.
Kedua sekolah tersebut, kata Thomas, juga memanfaatkan teknologi melalui Information Technology Reset (ITR) dan Quick Check.
Pemanfaatan sistem tersebut memungkinkan sekolah memantau perkembangan siswa secara berkala, termasuk mengukur target pencapaian dan passing grade. Hasil pemantauan kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan intervensi pembelajaran.
Calon Guru Diminta Melek Digital
Thomas menegaskan transformasi pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi.
Menurut dia, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian penting dalam membangun sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Perguruan tinggi, termasuk Unila, diharapkan terus memperkuat ekosistem pembelajaran digital sehingga mahasiswa memiliki akses terhadap sumber pengetahuan yang lebih luas.
Bagi mahasiswa FKIP, kemampuan tersebut dinilai penting karena mereka merupakan calon guru yang nantinya berada langsung di garis depan proses pembelajaran.
Thomas pun mendorong mahasiswa untuk tidak menjadi guru yang hanya mengikuti pola lama.
Sebaliknya, mereka harus mampu membaca perubahan, memetakan kebutuhan siswa, dan menciptakan inovasi pembelajaran.
Pesan itu menjadi penutup pembekalan Thomas kepada ribuan mahasiswa baru FKIP Unila. Bagi dia, masa depan pendidikan Lampung tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas dan keberanian para calon guru dalam membawa perubahan ke ruang-ruang kelas. (*)

