Bali  

Pertemuan Raja-Raja Nusantara di Bali, Tokoh Adat Lampung Bawa Misi Persatuan dan Pelestarian Budaya

BALI — Pertemuan Raja-Raja Seluruh Indonesia yang berlangsung di lingkungan Kerajaan Adat Klungkung, Bali, menjadi momentum memperkuat persaudaraan antarkerajaan adat sekaligus meneguhkan komitmen menjaga warisan budaya Nusantara.

Mengusung semangat Indonesia Bersatu, Adil, dan Makmur, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi lintas kerajaan dan komunitas adat untuk mempererat hubungan, menghormati keberagaman tradisi, serta menjaga identitas budaya bangsa.

Sejumlah tokoh adat dari Provinsi Lampung turut hadir membawa identitas dan tradisi adat daerahnya. Kehadiran mereka memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat adat Lampung dalam memperkuat jejaring kebudayaan di tingkat nasional.

Di antara tokoh yang hadir adalah Irjen Pol. (Purn.) Dr. H. Ike Edwin, S.I.K., S.H., M.H., M.M., yang akrab disapa Dang Ike. Ia menyandang gelar adat Gusti Batin Mangkunegara dan menjabat sebagai Perdana Menteri Kepaksian Pernong di lingkungan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.

Selain Dang Ike, hadir pula Agus Bastian dengan gelar Suntan Bandakh Makhga IV dari Kebandakh-an Makhga Way Lima, Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Tokoh lainnya adalah Ir. Nero Koenang Suttanku, bergelar Raja Ngarang Dunia dari Keratuan Pemanggilan, serta Destrayuda, S.H., M.H., dari Buay Koenang, Buay Belunguh, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Nama Pram dari Lamban Gedung Kuning juga disebut dalam jajaran perwakilan yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.

Tokoh Adat Lampung Perkuat Persaudaraan Nusantara

Kehadiran para tokoh adat Lampung dalam pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antarkerajaan dan komunitas adat di Indonesia.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan lembaga dan komunitas adat memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi, nilai sejarah, serta identitas masyarakat daerah.

Bagi masyarakat Lampung, kekayaan adat yang tercermin melalui kepaksian, keratuan, kebandakh-an, dan buay merupakan bagian dari warisan sejarah yang perlu terus dilestarikan.

Pelestarian tersebut tidak cukup hanya melalui seremoni adat. Diperlukan pula pendidikan budaya, pengenalan sejarah kepada generasi muda, serta keterlibatan aktif masyarakat agar nilai-nilai luhur tetap hidup dan tidak terputus oleh perubahan zaman.

Pertemuan lintas kerajaan adat di Bali diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman dan memperluas kerja sama dalam menjaga warisan budaya masing-masing daerah.

Persatuan Tanpa Menghilangkan Identitas Daerah

Keberagaman adat dan tradisi merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia. Setiap daerah memiliki sejarah, bahasa, tata nilai, dan tradisi yang menjadi ciri khas masyarakatnya.

Karena itu, penguatan persatuan nasional perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap identitas budaya daerah, termasuk hak masyarakat adat untuk menjaga dan mengembangkan tradisinya sesuai ketentuan yang berlaku.

Semangat Indonesia Bersatu, Adil, dan Makmur juga menjadi pengingat bahwa persaudaraan tidak boleh berhenti pada pertemuan seremonial. Nilai tersebut perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, musyawarah, menjaga kerukunan, dan membangun kerja sama lintas komunitas.

Bagi masyarakat adat Lampung, momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi daerah sekaligus memperkuat hubungan dengan komunitas adat dari berbagai wilayah Nusantara.

Menjaga Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang

Pertemuan Raja-Raja Seluruh Indonesia di lingkungan Kerajaan Adat Klungkung, Bali, diharapkan menjadi salah satu ruang untuk memperkuat komunikasi dan persaudaraan antarkerajaan adat.

Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemangku adat, pemerintah, lembaga pendidikan, hingga generasi muda. Kolaborasi tersebut penting agar warisan budaya tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga tetap dipraktikkan dan dihargai dalam kehidupan masyarakat.

Kehadiran tokoh-tokoh adat Lampung dalam forum tersebut sekaligus membawa pesan bahwa kekayaan budaya daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas nasional.

Dengan semangat persaudaraan Nusantara, adat dan budaya diharapkan terus menjadi perekat bangsa, memperkuat penghormatan terhadap keberagaman, serta memastikan warisan leluhur tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.(*)

Penulis: Wahyudi Editor: *******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *