Unila  

Mahasiswa Internasional Asal Afghanistan Lulus Magister di Unila, Siap Lanjutkan Studi Doktor

Kencanamedianews.com — Universitas Lampung (Unila) kembali melahirkan lulusan berprestasi yang menginspirasi. Salah satunya Karim Azizi, mahasiswa internasional asal Afghanistan, yang berhasil menuntaskan studi Magister Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melalui wisuda periode VI, Sabtu, 19 Juli 2025.

Di balik toga yang dikenakan, tersimpan perjalanan panjang penuh tantangan lintas budaya dan cita-cita besar menjadikan teknologi sebagai jembatan antara kemajuan digital dan kebutuhan sosial masyarakat global.

Karim sebelumnya meraih gelar Sarjana Ilmu Komputer dari Kabul Polytechnic University, Afghanistan. Ia memiliki rekam jejak profesional di berbagai lembaga, termasuk Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Afghanistan, Universitas Politeknik Kabul, serta sejumlah proyek internasional di bidang perangkat lunak, ilmu data, dan sistem informasi.

Keputusan melanjutkan studi ke Indonesia, khususnya di Unila, ia ambil karena tertarik pada keragaman budaya, keramahan masyarakat, dan keterbukaan terhadap mahasiswa asing. Menurutnya, Unila bukan sekadar kampus, melainkan rumah kedua yang memberi ruang bertumbuh, berkontribusi, dan membawa perubahan.

“Secara akademik, belajar di Unila sangat memperluas wawasan saya. Secara sosial, saya bertemu banyak teman dari berbagai latar belakang yang membuat saya diterima,” ujar Karim, Jumat, 25 Juli 2025.

Kini, Karim diterima sebagai kandidat program doktor (S-3) Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila. Ia dikenal visioner dan aktif di berbagai bidang, mulai teknologi pendidikan, pengembangan perangkat lunak, hingga transformasi digital berbasis sosial.

Meski sukses, perjalanan Karim di Indonesia tidak lepas dari tantangan. Ia mengaku sempat kesulitan memahami metode pengajaran dan aksen bahasa Indonesia di awal kuliah, serta kerap merasakan rindu keluarga, terutama saat momen perayaan penting. Namun, ia mengatasinya dengan membaca Alquran, berolahraga, dan berkomunikasi rutin dengan keluarga.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika skripsinya mendapat apresiasi dari dosen pembimbing, dan seorang teman menyampaikan bahwa dirinya menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain. “Itu momen yang sangat menyentuh. Saya merasa perjuangan saya tidak sia-sia,” kenangnya.

Karim kini tengah mengembangkan platform digital untuk globalisasi pendidikan online, mengintegrasikan sistem pembelajaran digital, memperluas akses pendidikan, dan menyediakan alat pembelajaran berbasis AI secara real-time. Platform ini rencananya akan diimplementasikan selama studi doktoralnya, dengan Unila sebagai mitra strategis.

Sebagai dosen tamu relawan di Kabul Polytechnic University dan NIMA Institute, Karim berbagi keahlian di bidang data science, pengembangan sistem informasi, dan manajemen jaringan komputer. Ia menguasai berbagai bahasa pemrograman seperti Python, C++, PHP, JavaScript, dan SQL, serta mendalami cloud computing, DevOps, dan penerapan AI dalam pendidikan.

Karim berharap hubungan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Afghanistan semakin erat. Ia juga berpesan kepada mahasiswa asing untuk tidak takut, terbuka terhadap perbedaan, dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

“Unila bukan sekadar kampus, Unila adalah rumah kedua bagi mahasiswa asing. Terus berkembang dan bawa perubahan,” ujarnya.

Bagi Karim, kelulusan hanyalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Dengan teknologi dan kolaborasi lintas budaya, ia bertekad menghadirkan solusi yang bermanfaat, mulai dari lingkungan terdekat hingga masyarakat global.