Bukan Sekadar Gelar, Kepala LLDIKTI II Ingatkan Wisudawan Saburai untuk Terus Belajar

BANDAR LAMPUNG — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., mengingatkan para wisudawan Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai (Saburai) agar tidak berhenti belajar setelah meraih gelar akademik. Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal untuk terus mengembangkan diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Iskhaq saat menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda 349 lulusan program sarjana dan pascasarjana Universitas Saburai di Ballroom Hotel Novotel Bandar Lampung, Rabu (21/10/2026).

Dalam sambutannya, Iskhaq juga menyampaikan apresiasi kepada Rektor Universitas Saburai beserta jajaran yayasan atas kontribusinya dalam mencetak generasi unggul melalui pendidikan tinggi.

Ia menilai, upaya perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia berkualitas merupakan bagian penting dari amanat konstitusi, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kontribusinya untuk mencetak generasi unggul. Ini adalah salah satu bagian dari upaya kita bersama menunaikan amanah proklamasi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan tinggi,” ujar Iskhaq.

Gelar Akademik Bukan Alasan Merasa Lebih Unggul

Di hadapan ratusan wisudawan, Iskhaq mengingatkan adanya sikap yang perlu dihindari setelah seseorang menyelesaikan pendidikan tinggi, yakni merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena telah menyandang gelar akademik.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai sindrom toga. Menurutnya, persoalan itu bukan penyakit medis, melainkan kecenderungan psikologis yang dapat muncul setelah seseorang meraih pencapaian akademik.

“Ketika seseorang diwisuda, biasanya ada penyakit yang menjangkitinya, baik itu S2 atau S3, misalnya, atau ketika dikukuhkan sebagai guru besar. Penyakitnya bukan penyakit medis, tetapi penyakit psikologis. Namanya sindrom toga,” katanya.

Iskhaq menjelaskan, sindrom toga berkaitan dengan perasaan menganggap diri lebih baik daripada orang lain setelah memperoleh gelar atau pengakuan akademik.

Karena itu, ia berharap para lulusan Saburai tidak menjadikan gelar sebagai alasan untuk merasa paling unggul. Sebaliknya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus menjadi bekal untuk terus berkembang, meningkatkan kapasitas diri, dan berkontribusi di tengah masyarakat.

“Mudah-mudahan Anda semua menjadi generasi unggul yang terus memperbarui ilmunya, yang terus belajar, dan terus berperan di tengah-tengah masyarakat, memberikan manfaat yang sebesar-besarnya,” pesannya.

349 Wisudawan, 349 Perjalanan

Iskhaq juga menyampaikan ucapan selamat kepada 349 lulusan yang mengikuti prosesi wisuda. Ia memandang setiap wisudawan memiliki perjalanan, tantangan, dan pengalaman berbeda hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan.

Namun, seluruh perjalanan tersebut bertemu pada satu tujuan, yakni menuntaskan pendidikan yang telah dimulai sejak pertama kali memasuki lingkungan kampus.

“Selamat kepada semua 349 orang. Berarti ada 349 kisah di sana yang saya yakini tiap kisahnya berbeda-beda, setiap jalannya berbeda-beda, tetapi tujuannya sama, yaitu menuntaskan apa yang sudah Anda mulai pada saat memasuki gerbang Universitas Saburai,” ujarnya.

Ia berharap keberhasilan yang diraih pada hari wisuda dapat menjadi pijakan untuk mencapai kesuksesan berikutnya, baik dalam dunia kerja, pengembangan keilmuan, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Iskhaq, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari gelar yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan seseorang menerapkan pengetahuan dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Apresiasi untuk Saburai dan Keluarga Wisudawan

Selain memberikan pesan kepada para lulusan, Iskhaq turut menyampaikan selamat kepada orang tua dan keluarga yang telah mendukung perjalanan pendidikan para wisudawan.

Ia berharap keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan keluarga sekaligus motivasi bagi para lulusan untuk terus meningkatkan prestasi.

Di akhir sambutannya, Iskhaq mengajak seluruh pihak, termasuk perguruan tinggi dan para alumni, untuk mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing dalam membangun bangsa.

“Mari bersama-sama kita terus membangun negeri ini sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Sekali lagi, selamat kepada Anda semua, selamat kepada Saburai, selamat kepada para keluarga,” tuturnya.

Sidang Senat Terbuka Universitas Saburai berlangsung khidmat dengan diikuti 349 lulusan sarjana dan pascasarjana. Kehadiran Kepala LLDIKTI Wilayah II dalam prosesi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya pendidikan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul.

Pesan Iskhaq menjadi pengingat bahwa wisuda bukanlah garis akhir untuk belajar. Gelar akademik semestinya menjadi bekal untuk terus memperbarui pengetahuan, menjaga kerendahan hati, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (*)

Penulis: Wahyudi Editor: *******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *