BANDAR LAMPUNG, KENCANA MEDIA NEWS — Pengamat pendidikan sekaligus anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung, Gunawan Handoko, menanggapi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, yang meminta guru tidak terburu-buru menyalahkan siswa dan berani mengevaluasi metode mengajar.
Gunawan menyatakan sepakat dengan pandangan tersebut. Namun, menurut dia, evaluasi pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada metode pembelajaran. Pembentukan karakter, moral, dan perilaku siswa juga harus menjadi perhatian utama.
“Saya sepakat dengan Pak Thomas. Jangan terlalu mudah memberi cap siswa malas atau bodoh, padahal bisa jadi metode mengajar kita kurang adaptif. Namun, evaluasi pendidikan juga harus menyentuh aspek moral dan perilaku siswa,” ujar Gunawan kepada Kencana Media News, Sabtu (18/10/2026).
Ia mempertanyakan orientasi pendidikan apabila keberhasilan siswa hanya diukur dari kecerdasan akademik, tanpa diimbangi pembentukan karakter.
“Pertanyaan saya sederhana, bagaimana jika ada siswa yang moralnya tidak baik, tetapi cerdas? Apakah target sekolah hanya mencetak siswa yang pintar tanpa memperhatikan moral? Kalau iya, kita sedang mencetak bom waktu,” katanya.
Untuk memperkuat pandangannya, Gunawan menyinggung kasus yang sempat menjadi sorotan publik di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, pada Oktober 2025.
Ia menuturkan, saat kegiatan kerja bakti Jumat Bersih, kepala sekolah mendapati seorang siswa merokok dan kemudian memberikan teguran keras.
Menurut Gunawan, persoalan tersebut kemudian berkembang setelah orang tua siswa keberatan atas teguran itu dan melaporkannya ke polisi. Ia juga menyebut sebanyak 630 siswa melakukan aksi mogok sebagai bentuk pembelaan terhadap siswa tersebut sekaligus menuntut kepala sekolah mundur.
“Ini pembalikan logika yang berbahaya. Ketika siswa melakukan kesalahan, justru orang yang menegur dipersoalkan. Jika perilaku seperti ini dibiarkan, kita perlu mempertanyakan keberhasilan pendidikan karakter di sekolah,” tegasnya.
Menurut Gunawan, evaluasi metode mengajar yang disampaikan Thomas Amirico perlu diikuti dengan upaya memperkuat posisi guru dalam menjalankan tugas pembinaan karakter.
Ia menilai guru harus mampu mengajar secara adaptif sekaligus memiliki ruang yang aman untuk menegakkan tata tertib dan memberikan pembinaan kepada siswa.
“Kalau guru sudah mengajar dengan baik dan memberikan teguran secara tepat, tetapi siswa maupun orang tua menolak proses pembinaan, lalu siapa yang harus dievaluasi? Di sinilah Disdikbud perlu hadir untuk memastikan guru mendapatkan perlindungan ketika menjalankan tugas mendidik,” ujarnya.
Usulkan Pakta Integritas Tiga Pihak
Untuk mencegah persoalan serupa terjadi di Lampung, Gunawan mengusulkan agar Disdikbud menerapkan pakta integritas yang melibatkan tiga pihak, yakni sekolah, guru, dan orang tua.
Menurut dia, sekolah harus berani menegakkan tata tertib secara konsisten. Guru perlu mendapatkan perlindungan ketika menjalankan pembinaan karakter sesuai aturan, sedangkan orang tua diharapkan berkomitmen mendukung proses pendidikan anak.
Selain itu, Gunawan mengusulkan penerapan evaluasi pendidikan melalui tiga aspek.
Pertama, evaluasi metode pembelajaran. Guru perlu dievaluasi untuk memastikan metode mengajar yang digunakan sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan era digital, bukan sekadar mengandalkan pola ceramah yang monoton.
Kedua, evaluasi keberanian moral sekolah. Sekolah perlu dinilai berdasarkan konsistensinya dalam menegakkan aturan, termasuk terkait pelanggaran seperti merokok, perundungan, dan ketidakjujuran.
Menurutnya, penegakan aturan harus dilakukan secara adil dan terukur, tanpa mengabaikan hak siswa maupun kewajiban sekolah dalam membina karakter.
Ketiga, evaluasi sistem penghargaan. Gunawan menilai sekolah selama ini cenderung memberikan apresiasi kepada siswa berdasarkan prestasi akademik, seperti juara kelas, juara olimpiade, dan pencapaian lainnya.
Padahal, menurut dia, penghargaan juga perlu diberikan kepada siswa yang menunjukkan kejujuran, kesantunan, kepedulian, dan empati terhadap sesama.
“Jangan sampai di Lampung, guru takut menegur siswa yang melanggar tata tertib karena khawatir didemo atau berhadapan dengan orang tua. Kalau guru sudah takut mendidik moral, kita bukan lagi menjalankan pendidikan secara utuh,” ucapnya.
Gunawan berharap, di bawah kepemimpinan Thomas Amirico, Disdikbud Lampung mampu mendorong peningkatan kualitas pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik.
Menurut dia, peningkatan literasi dan prestasi akademik harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai moral, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
“Harapan saya, Disdikbud Lampung tidak hanya berhasil meningkatkan angka literasi dan nilai UTBK, tetapi juga mampu memperkuat karakter dan akhlak siswa. Itulah hakikat dari tagline Memuliakan Pendidikan yang sesungguhnya,” pungkasnya.(*)












