Aceh – PT Hutama Karya (Persero) terus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar Jalan Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh), salah satunya dengan membuka peluang bagi pelaku UMKM, termasuk pedagang di kawasan Saree, Aceh Besar, untuk mengembangkan usahanya di rest area Tol Sibanceh.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Hutama Karya untuk memperluas manfaat keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), tidak hanya dalam meningkatkan konektivitas dan efisiensi perjalanan, tetapi juga dalam membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Seiring beroperasinya Jalan Tol Sibanceh, terjadi perubahan pola perjalanan sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan Jalan Nasional Banda Aceh–Medan melalui kawasan Saree. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan Hutama Karya, khususnya dalam menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi dan UMKM di kawasan tersebut.
Salah seorang pedagang di Saree, Zainal Abidin, mengungkapkan bahwa arus kendaraan yang melintasi kawasan tersebut mengalami penurunan setelah beroperasinya jalan tol. Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas usaha yang selama ini bergantung pada pengguna jalan yang singgah di kawasan Saree.
Sebagai tindak lanjut, Hutama Karya melalui Regional Sumatera Bagian Utara melakukan koordinasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kabupaten Aceh Besar pada Jumat (21/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Section Head Keuangan Regional Sumatera Bagian Utara, Yunus Fitriawan, dan Section Manager Tol Sibanceh, Bima Cahyo Gavian, serta Kepala Diskopukmdag Kabupaten Aceh Besar Drs. Sulaimi, M.Si. beserta jajaran.
Kepala Regional Sumatera Bagian Utara PT Hutama Karya (Persero), Taufiq Hidayat, mengatakan bahwa pembangunan Jalan Tol Sibanceh pada prinsipnya bertujuan meningkatkan konektivitas, keselamatan, dan efisiensi perjalanan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.
“Perubahan pola perjalanan merupakan hal yang dapat terjadi seiring hadirnya infrastruktur baru. Yang penting bagi kami adalah bagaimana peningkatan konektivitas ini juga dapat membuka peluang ekonomi baru. Karena itu, kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan agar manfaat Jalan Tol Sibanceh dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat,” terangnya.
Untuk tetap menjaga keseimbangan, lanjutnya, Hutama Karya tengah menyiapkan skema untuk memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM Saree agar dapat memanfaatkan ruang usaha yang tersedia di rest area Tol Sibanceh.
“Kami membuka peluang bagi pelaku UMKM, termasuk dari kawasan Saree, untuk dapat mengembangkan usahanya di _rest area_Tol Sibanceh. Salah satu skema yang sedang kami siapkan adalah alokasi 30% kios UMKM, atau sekitar tiga kios pada setiap _rest area_, yang dapat difasilitasi tanpa biaya sewa melalui mekanisme kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dengan Hutama Karya,” ujar Taufiq.
Selain skema tersebut, Hutama Karya juga menyiapkan alternatif berupa pemberian keringanan biaya sewa sebesar 50% selama satu tahun bagi tenant UMKM lainnya sesuai mekanisme dan ketentuan pengelolaan rest area.
Menurut Taufiq, Hutama Karya juga mendorong keterlibatan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan Dekranasda agar produk unggulan daerah, mulai dari kuliner hingga kerajinan khas Aceh, dapat semakin banyak hadir di rest area dan dikenal oleh pengguna jalan tol.
“Rest area kami harapkan tidak hanya menjadi tempat beristirahat bagi pengguna jalan, tetapi juga menjadi etalase produk dan potensi daerah. Karena itu, kami ingin membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah agar UMKM lokal dapat memperoleh pasar baru dari pengguna Jalan Tol Sibanceh,” jelasnya.
Untuk menindaklanjuti rencana tersebut, Hutama Karya akan menyiapkan roadmap, rencana tata letak _(layout)_, rancangan kerja sama, serta mekanisme pelaksanaan yang selanjutnya akan dikoordinasikan bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.
Kepala Diskopukmdag Kabupaten Aceh Besar, Drs. Sulaimi, M.Si., menyambut positif inisiatif tersebut. Menurutnya, kondisi pelaku usaha dan UMKM di kawasan Saree juga telah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten dan DPRK Aceh Besar.
“Pada prinsipnya, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Aceh Besar sangat mendukung dan berterima kasih atas perhatian Hutama Karya terhadap pengembangan UMKM dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Sulaimi.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terlebih dahulu akan melakukan pendataan terhadap pelaku usaha dan UMKM di kawasan Saree. Pendataan diperlukan agar program yang disiapkan dapat dilaksanakan secara tepat sasaran, mengingat pelaku usaha di kawasan tersebut berasal dari berbagai wilayah.
Selanjutnya, Diskopukmdag Aceh Besar akan menyampaikan rencana tersebut kepada Bupati Aceh Besar serta memfasilitasi pembahasan lebih lanjut antara Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan Hutama Karya untuk membahas mekanisme serta aspek teknis pelaksanaannya.(*)

