Lentera Untuk MK

Kencana Media, Menurut Socrates (Yunani, 470 SM–399 SM), dalam demokrasi tidak semua orang bisa memperoleh hak suara (hak memilih) karena hak memilih yang baik tidak bersifat acak, melainkan harus melalui perwakilan. Hak memilih tersebut juga harus diwakili kaum filsuf (intelektual organik), bukan diwakili kaum oportunis (intelektual tradisional) seperti DPR.

 

Bagi Socrates, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, karena tindakan “memilih” itu membutuhkan skill dan pengetahuan yang cukup. Atas alasan tersebut, Socrates meragukan demokrasi bahwa setiap orang memiliki hak suara yang sama.

 

Mungkin kita bisa setuju bahwa di masyarakat kita masih lebih banyak orang yang buta politik (mis: mudah disuap, tidak perduli politik, hanya memikirkan diri atau kelompoknya), dibandingkan yang melek politik. Ungkapan suara rakyat adalah suara Tuhan menjadi keliru, karena suara rakyat yang mayoritas itu pastilah suara yang berasal dari masyarakat yang buta politik.

 

Ambil contoh misalnya di sebuah kelas kuliah, yang umumnya mahasiswa malas biasanya lebih mayoritas daripada yang rajin. Jika suatu ketika dilakukan voting terhadap pilihan perlu tidaknya penambahan tugas kuliah, maka akan dimenangkan oleh mahasiswa yang tidak menginginkan tugas tambahan tersebut. Padahal kita semua tahu bahwa tugas utama seorang mahasiswa adalah mencari ilmu pengetahuan sebanyak mungkin.

 

Socrates menilai hanya mahasiswa yang rajin mencari ilmu pengetahuan saja (minoritas) yang akan memilih tugas tambahan tersebut. Karena mereka tahu, mengerjakan tugas tambahan kuliah adalah salah satu mekanisme untuk menyelesaikan permasalahannya di masa depan setelah kuliah. Sedangkan mahasiswa yang malas (mayoritas) tetap nyaman dalam kungkungan patrimonial, egoisme, dan irrasional.

 

Pada dugaan kecurangan Pemilu 2024, kaum intelektual tradisional lebih memilih diam, tak berkutik, tak bisa berbuat apa-apa karena mungkin tersandera kasus hukum atau menerima suap. Hal ini mirip seperti di Athena ketika itu, dimana Socrates dihukum meminum racun atas dasar suara mayoritas, suara intelektual tradisional.

 

Itu sebabnya bagi Netzsche (Jerman, 1844–1900), demokrasi hanya cocok untuk masyarakat yang telah melek politik, tidak mudah disuap, sangat perduli politik, tidak memikirkan diri atau kelompoknya, sudah tahu tentang hak-hak politiknya dan sudah tumbuh kesadaran politik dengan sistem yang baik.

 

Nasehat Socrates, jadilah intelektual organik jangan jadi intelektual tradisional.

Salam akal sehat ,Yudhi hasyim.ketua jangkar merah putih Lampung

Penulis: Wyd