BANDAR LAMPUNG, Kencana Media – Lampung sedang merayakan banyak kabar baik dari dunia pendidikan.
Hasil SNBT meningkat. Semakin banyak siswa diterima di perguruan tinggi negeri. Sekolah-sekolah unggulan mulai menunjukkan performa yang membanggakan.
Namun ada satu pertanyaan yang layak diajukan. Apakah prestasi itu sudah ditopang oleh budaya membaca yang kuat?
Pertanyaan ini penting karena kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang lolos seleksi perguruan tinggi. Pendidikan yang kuat dibangun di atas kebiasaan belajar yang kuat, dan hampir semua kebiasaan belajar berawal dari membaca.
Di sinilah menariknya salah satu komponen Dana BOS yang sering luput dari perhatian, yaitu pengembangan perpustakaan.
Dari sembilan komponen penggunaan Dana BOS, pengembangan perpustakaan mungkin bukan yang paling besar nilainya. Namun dampaknya bisa menjadi yang paling panjang.
Sekolah bisa membangun ruang kelas baru setiap tahun. Sekolah bisa membeli komputer baru setiap tahun. Tetapi kemampuan membaca yang rendah akan terus membatasi kualitas pembelajaran di semua mata pelajaran.
Paradoks Pendidikan
Indonesia selama bertahun-tahun menghadapi paradoks. Angka partisipasi sekolah terus meningkat. Lulusan terus bertambah.
Namun berbagai survei literasi menunjukkan kemampuan membaca dan memahami informasi masih menjadi tantangan besar.
Akibatnya banyak siswa mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami maknanya secara mendalam.
Padahal kemampuan memahami bacaan merupakan fondasi hampir seluruh proses belajar.
Matematika membutuhkan kemampuan membaca soal. Sains membutuhkan kemampuan membaca konsep. Sejarah membutuhkan kemampuan membaca konteks.
Bahkan SNBT yang kini menjadi jalur utama masuk perguruan tinggi semakin banyak menguji kemampuan bernalar melalui bacaan.
Artinya, kemenangan sesungguhnya bukan ketika siswa berhasil menghafal jawaban. Melainkan ketika mereka mampu memahami informasi dan berpikir kritis.
Perpustakaan Adalah Infrastruktur SDM
Karena itu perpustakaan seharusnya dipandang sebagai infrastruktur pembangunan manusia.
Selama ini ketika berbicara infrastruktur, perhatian sering tertuju pada jalan, gedung, atau laboratorium.
Padahal perpustakaan juga merupakan infrastruktur.
Bedanya, yang dibangun bukan mobilitas barang, melainkan mobilitas pengetahuan.
Masalahnya, banyak perpustakaan sekolah masih berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, bukan pusat aktivitas belajar.
Ruangannya ada. Rak bukunya ada. Tetapi ekosistem membacanya belum tumbuh.
Sekolah Unggulan Harus Memimpin
Karena itu sekolah-sekolah unggulan Lampung perlu menjadi pelopor. Bukan hanya unggul dalam hasil SNBT, tetapi juga unggul dalam budaya literasi.
Salah satu langkah paling konkret adalah memastikan perpustakaan dikelola oleh tenaga yang memiliki kompetensi khusus dan sertifikasi kepustakawanan.
Pustakawan modern bukan penjaga buku. Mereka adalah manajer literasi.
Mereka merancang program membaca, menghubungkan siswa dengan sumber pengetahuan, serta membantu sekolah membangun budaya belajar yang berkelanjutan.
Jika sekolah membutuhkan guru profesional untuk mengajar matematika dan fisika, maka perpustakaan juga membutuhkan tenaga profesional untuk mengelola literasi.
Investasi yang Dampaknya Puluhan Tahun
Dana BOS memang dapat digunakan untuk membeli buku. Tetapi investasi terbaik sesungguhnya bukan hanya pada bukunya. Investasi terbaik adalah memastikan buku tersebut dibaca. Sebab rak yang penuh buku tidak otomatis melahirkan pembaca.
Yang melahirkan pembaca adalah budaya. Dan budaya selalu lahir dari pengelolaan yang serius.
Karena itu, ketika Lampung mulai menunjukkan kemajuan dalam dunia pendidikan, mungkin sudah saatnya perhatian tidak hanya tertuju pada berapa banyak siswa yang lolos SNBT.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak sekolah yang benar-benar menjadikan perpustakaan sebagai jantung pembelajaran?
Sebab sekolah unggul menghasilkan lulusan unggul. Tetapi perpustakaan yang hidup menghasilkan generasi pembelajar.
Dan itulah pondasi yang akan menentukan kualitas SDM Lampung jauh setelah euforia hasil SNBT berlalu.**

